“Wasit sempat memberikan isyarat K.O. untuk Bangkalan, padahal atlet kami tidak terjatuh dan masih dalam posisi berdiri. Sinyal itu keliru dan kemudian ditarik kembali. Kedua petarung pun diarahkan ke sudut netral,” ujar Fajar.
Namun, saat kondisi pertandingan belum dinyatakan selesai, seorang ofisial dari tim Kota Malang secara tidak beretika masuk ke dalam arena dengan membuka paksa pintu oktagon.
“Tindakan ini sangat tidak pantas dan melanggar aturan. Ini menghina wibawa panpel dan mengganggu jalannya pertandingan,” tambah Fajar.
Ia menyebut bahwa panpel kemudian secara tiba-tiba menetapkan kemenangan untuk Kota Malang, tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku. Padahal, menurutnya, tindakan tidak sportif seperti itu seharusnya berujung pada diskualifikasi.



